Tanjung Barat

Travel Agent Tanjung Barat 24 Jam, Tlp 0812 1014 6262. Bagi Anda yang tinggal atau berada di sekitar Tanjung Barat dan sekitarnya silahkan menghubungi kami kapan saja, 24 jam untuk pemesanan tiket pesawat domestik maupun International, kereta, maupun tiket travel.

Tanjung Barat adalah sebuah kelurahan yang terletak di Jakarta. Kelurahan ini memiliki kode wilayah 31.74.09.1005 dan kode pos 12530. Kelurahan ini terletak di kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Pada zaman sebelum kemerdekaan, wilayah Tanjung Barat ini khususnya di daerah Muara, merupakan pusat dari sebuah kerajaan kecil bernama kerajaan Tanjung Jaya. atau Tanjung Wijaya yang merupakan kerajaan bawahan dari kerajaan Sunda Galuh/kerajaan Pajajaran. Kerajaan ini didirikan oleh Prabu Wangsatunggal, seorang sepupu Prabu Ragamulya Luhur Prabawa, raja Kerajaan Sunda ke-30. Wangsatunggal mendirikan kerajaan ini pada tahun 1333. Menurut naskah Wangsakerta. Lokasi pusat kerajaan Tanjung Jaya diperkirakan di daerah Muara, Tanjung Barat (Gang Muara I, II dan III) atau tepat di “kali kawin” (kali kimpoi, pertemuan kali Ciliwung dengan kali Cijantung atau Kalisari). Kerajaan ini awalnya bernama Tanjung Kalapa dan berpusat di Tanjung Timur (Condet) tetapi oleh Wangsatunggal pusat Kerajaan Tanjung Kalapa (taklukan Tarumanagara) dipindahkan ke Tanjung Barat. Prabu Wangsatunggal kemudian mengganti nama Tanjung “Kalapa” dengan Tanjung “Jaya”. Raja-raja Tanjung Jaya berturut-turut adalah:

Prabu Wangsatunggal
Ratu Munding Kawati
Raja Liung I
Raja Mental Buana
Raja Banyak Citra
Raja Cakralarang
Raja Liung II
Ratu Kiranawati (ratu terakhir).
Sumber sejarah tentang kerajaan Tanjung Jaya ini memang hanya berasal dari Naskah Wangsakerta, sayangnya naskah ini termasuk kontroversial karena diragukan validitasnya.

!Artikel utama untuk bagian ini adalah: kerajaan Tanjung Jaya
Islam di Tanjung Jaya
Tidak diketahui kapan tepatnya Islam masuk ke kerajaan ini tetapi menurut kajian budayawan Betawi Ridwan Saidi hal ini bisa dirunut dari berdirinya Pesantren Syekh Quro atau Syekh Hasanuddin di Karawang pada tahun 1418. Syekh Quro adalah seorang pendakwah asal Kamboja yang pengaruhnya terasa hingga ke keraton Tanjung Jaya sehingga banyak pembesar-pembesar keraton yang masuk Islam. Saat dipimpin Ratu Kiranawati, agama Islam sudah berkembang pesat. Hal ini berbeda dengan di kerajaan Sunda dimana pengaruh Hindu di keraton masih sangat kuat.

Selain dikenal sebagai seorang muslimah yang taat, Ratu Kiranawati juga terkenal dengan kecantikan wajahnya sehingga oleh rakyatnya dijuluki dengan Ratu Kebagusan. Ratu Kiranawati wafat dan dimakamkan di daerah Ratu Jaya Depok. Pada masa pemerintahan Ratu Kiranawati, salah satu Adipati Kerajaan yang bernama Pangeran Papak menjadi salah satu dari Tujuh Wali Betawi. Ke-tujuh wali Betawi adalah: Syekh Quro, Pangeran Cakrabuana (Kian Santang), Pangeran Darma Kumala, Kumpi Datuk, Habib Sawangan, Pangeran Papak dan Ki Aling. Ketujuh ‘wali Betawi’ ini, hidup sebelum penyerbuan Fatahillah ke Sunda Kelapa.

Penyerbuan Fatahillah
Alasan Fatahillah (kesultanan Demak) melakukan penyerbuan ke Sunda Kelapa adalah untuk mengusir penjajah Potugis yang membangun benteng di pelabuhan Sunda Kelapa. Saat itu pelabuhan Sunda Kelapa adalah pelabuhan utama kerajaan Sunda Galuh sementara Sunda Galuh menyerahkan pengawasan dan pengelolaan Sunda Kelapa kepada kerajaan bawahannya yaitu kerajaan Tanjung Jaya. Keberadaan Potugis di Sunda Kelapa adalah atas undangan Sunda Galuh dan mereka bersekutu dalam sebuah Perjanjian. Persekutuan ini secara otomatis juga melibatkan Tanjung Jaya.

Pada tanggal 22 Juni 1527, pasukan gabungan dari Kesultanan Demak dan Kesultanan Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah (Faletehan) berhasil merebut Sunda Kelapa. Kegagalan pasukan Tanjung Jaya yang dibantu Sunda Galuh dalam mempertahankan pelabuhan Sunda Kelapa menjadi awal keruntuhan Tanjung Jaya. Sisa-sisa pasukan mereka yang selamat beserta kerabat keraton akhirnya mengungsi ke ibukota Sunda yaitu Pakuan Pajajaran tetapi pada tahun 1579 sultan Maulana Yusuf dari Kesultanan Banten menghancurkan Pakuan Pajajaran sehingga berakhirlah riwayat kerajaan Sunda termasuk kerajaan-kerajaan kecil bawahannya.

Pada masa pemerintahan Fatahillah (sering disebut Pangeran Jayakarta I), dia mambangun pusat pemerintahan Kadipaten lengkap dengan alun-alun, Masjid raya serta perumahan pejabat Kadipaten. Pengawasan Kadipaten baru bentukan Fatahillah diserahkan kepada kesultanan Banten.

Sultan Banten yaitu Maulana Hasanuddin atau Pangeran Sabakingkin (1552 – 1570) mengangkat menantunya Pangeran Tubagus Angke (sering disebut Pangeran Jayakarta II) menjadi Adipati Sunda Kalapa kemudian diteruskan oleh Pangeran Sungerasa Jayawikarta (sering disebut Pangeran Jayakarta III). Pada tanggal 30 Mei 1619, Jayakarta direbut Belanda di bawah pimpinan Jan Pieterszoon Coen sekaligus memusnahkannya. Di atas puing-puing Jayakarta didirikan sebuah kota baru yaitu Batavia.

Peninggalan Sejarah
Belum ada upaya menemukan kembali sisa-sisa peninggalan sejarah di Tanjung Barat, baik peninggalan fisik maupun peninggalan berupa tulisan masa lampau yang memiliki keterkaitan, hal ini berbeda dengan wilayah Condet, Bale Kambang, Batu Ampar, Kampung Gedong serta Tanjung Timur yang memiliki banyak peninggalan dari masa lampau seperti Situs Landhuis Gedong Tanjung Timur di kelurahan Kampung Gedong, Pasar Rebo, Jakarta Timur.

Pemerintahan
Kelurahan Tanjung Barat sebelumnya termasuk dalam wilayah Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Pada tanggal 18 Desember 1990 Pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah No. 60 tahun 1990 yang antara lain berisi pemekaran wilayah Kecamatan Pasar Minggu menjadi dua yaitu Kecamatan Pasar Minggu dan Kecamatan Jagakarsa. Peraturan Pemerintah ini dimuat dalam Lembaran Negara No. LN 1990/87.

Penduduk Kelurahan ini sangat heterogen seperti umumnya kelurahan-kelurahan di Jakarta tetapi budaya umum yang diberlaku di masyarakat adalah budaya Betawi. Akses dari dan ke Kelurahan ini termasuk mudah karena dilalui jalan tol, jalur KRL dll. Lurah Tanjung Barat sekarang adalah Debby Novita Andriani yang menggantikan Aryan Syafari.

Cakupan Wilayah.
Luas kelurahan Tanjung Barat: 364.64 ha2 terdiri dari 6 RW serta 66 RT yang meliputi area-area:

Utara: Poltangan, Beringin Besar, Remidi, Perikanan, Swadaya, Gunuk Ciliwung, Kober, Nangka Utara, Lebak Sari.
Selatan: Rancho, TBI, Muara, Gintung, Buni, Bacang, Sonton, Gang Seratus, Kampung Bulak/Jambu, Tanjung Mas, Nangka Selatan.
Tiket Pesawat 24 jam hub: 0812-1014-6262,  0819-0594-4060,  0815-4647-4848.